Senin, 19 Maret 2012

Lesson

"If we don't change, we don't grow. If we don't grow, we are not really living. Growth demands a temporary surrender of security." - Gail Sheehy



Rabu, 14 Maret 2012

Love This


"De gustibus non est disputandum"
Persoalan selera tak dapat diperdebatkan!
(From The Geography of Bliss - Book)

Boyband dan Sebuah Kepedulian


PARADE boyband yang sempat menyihir tanah air di dekade 90-an rupanya kembali menjadi fenomena dalam setahun terakhir. Jika dulu remaja hingga orang-orang dewasa “menggandrungi” boyband dari negara-negara Paman Sam, Amerika Serikat atau bangsa barat, saat ini justru sebaliknya. Negara-negara Asia Timur lebih mendapatkan tempat di hati para pencinta musik. Negara-negara seperti Korea Selatan, Jepang ataupun Cina memang tak henti-hentinya melahirkan boyband ciamik. Namun sejauh ini memang negara Korea Selatan masih menempati posisi teratas sebagai penghasil boyband dengan tampilan menarik dan kualitas mumpuni. Mulai dari paras, penampilan hingga aksi yang mereka suguhkan mampu mengundang decak kagum para remaja dari berbagai negeri.
Media di tanah air pun tak luput dari “demam boyband” ini. Bukan hal yang mengherankan lagi jika sepak terjang dan perkembangan boyband-boyband dari negeri ginseng ini kerap menjadi jualan andalan untuk meraup massa (pembaca/penonton) maupun rupiah. Super Junior, Shinee, Smash, H.O.T dan lainnya merupakan sebagian dari nama-nama boyband yang memiliki ratusan bahkan jutaan penggemar di negara-negara Asia dan paling laris diberitakan. Sadar ataupun tidak, lambat laun keberadaan boyband yang kembali mendapatkan tempat di hati para fans ini memunculkan ide yang sama di kepala para produser ataupun musisi Indonesia. Apalagi kalau bukan menghadirkan boyband-boyband yang “terinspirasi” dari negeri tetangga tersebut.
Tak mengherankan jika dalam satu tahun terakhir, boyband yang secara sederhana merupakan kumpulan dari anak muda (pemuda-pemudi) yang memiliki kemampuan dalam hal menyanyi dan menari pun turut meramaikan pentas musik tanah air. Banyak nama yang juga bisa disebutkan. Seperti SM*SH, Miki, Super Nine Balls, XOIX, MAX 5, dll. Namun dari beberapa nama tersebut, boyband SM*SH tetap menjadi yang teratas. Boyband yang beranggotakan tujuh pemuda ini menjadi pelopor dalam menimbulkan “demam” boyband di tanah air. Dari segi kuantitas tentunya keberadaan boyband ini menambah jumlah dan variasi dalam daftar musisi tanah air. Selain solois, duo, grup maupun band-band yang telah lebih dulu ada. Namun berbeda halnya jika kita lihat dari segi kualitas.
Kualitas di sini bukan semata-mata kualitas boyband yang bersangkutan, yang sebagian di antaranya tidak kita pungkiri memang memiliki vokal prima dan lagu-lagu yang enak didengar. Tapi lebih dari itu. Kualitas dalam arti kemampuan pemuda-pemudi tanah air melahirkan karya yang otentik, tidak meniru, ikut-ikutan tren ataupun mengekor bangsa lain yang telah lebih dulu sukses. Baik dari segi musikalitas maupun penampilan tampaknya justru mengalami penurunan. Antusiasme para pemuda ini di satu sisi memang baik. Tapi di sisi lain menunjukkan bahwa generasi muda bangsa Indonesia masih memiliki kepercayaan diri yang rendah. Pepatah “rumput tetangga selalu lebih hijau” sepertinya tepat untuk menggambarkan hal tersebut. Karya atau apapun yang dihasilkan oleh orang lain selalu lebih baik. Termasuk dalam hal bermusik. Tak mengherankan, jika kemudian kenyataan ini juga membuktikan bahwa kepedulian kita (siapa pun) terhadap generasi muda juga masih kurang.
Generasi Muda antara Karya dan Kepedulian Bangsa
Menilik pola didikan generasi masa lalu (pra dan pascakemerdekaan), kepedulian itu bukan hanya sekadar untuk basa-basi. Kepedulian itu melekat pada tiap pribadi mereka yang menjadi bagian dari bangsa. Mulai kalangan rakyat biasa hingga pejabat tinggi. Mereka tidak hanya menyampaikan kepedulian itu dalam bentuk retorika yang enak didengar. Namun juga menunjukkannya melalui perbuatan dengan tujuan untuk memberi pengajaran.
Seorang Presiden Soekarno pun pernah menunjukkan kepeduliannya. Beliau melakukan “didikan keras” terhadap band Koes Bersaudara, yaitu dengan memenjarakan para personilnya hanya karena mereka terpengaruh dan ikut-ikutan demam The Beatles, band asal Inggris yang terkenal dengan rambut bob dan poninya itu. Soekarno menganggap hal ini tidak baik bagi generasi muda. Karena dapat menurunkan kepercayaan diri generasi muda dan menjadikan mereka tidak memiliki kepribadian yang orisinil. Padahal saat itu Koes Bersaudara merupakan band yang digandrungi oleh anak muda tanah air. Secara tidak langsung beliau pun turut membangun karakter para pemuda tanah air.
Andaikan kita kaitkan dengan masa sekarang, barangkali Presiden Soekarno atau siapa pun yang melakukan hal serupa akan dianggap melanggar HAM. Dan dalam sekejap akan berada di meja hijau. Karena membatasi kebebasan dalam berkreasi dan berekspresi pada diri seseorang. Padahal kalau kita tilik lagi, hal ini justru mengajarkan kepada kita bahwa kepedulian itu bukan hanya sekadar basa-basi yang muncul di saat atau momen tertentu. Serta pada dasarnya kebebasan sekalipun memiliki batasan yang patut kita perhatikan. Seorang Presiden Soekarno telah membuktikan bahwa siapapun memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang sama dalam membenahi hal-hal “keliru” yang ada di tengah bangsanya. Sementara bagi sebagian yang lain kepedulian dan hal semacamnya justru berada di urutan kesekian. Bagi mereka yang terpenting adalah pasar menyukai apa yang mereka tawarkan. Maka tak mengherankan jika boyband dengan bermacam pernik dan ciri khas yang dipaksakan terus bermunculan dan berlomba-lomba mendapatkan tempat di dunia musik tanah air. Hal ini tentunya memprihatinkan.
Meskipun demikian harus kita akui bahwa memang tidak mudah untuk menghilangkan “budaya” (mengekor/meniru) yang terlanjur menjalar di tubuh kita, menumbuhkan kembali kepercayaan diri serta kepedulian di tengah masyarakat. Dan harus diakui juga untuk melakukan hal yang serupa akan terasa sulit saat ini. Kita tidak bisa melakukan pelarangan membabi buta atau melakukan sensor yang berlebihan dalam membatasi pertumbuhan atau perkembangan boyband tanah air tersebut. Namun juga bukan pekerjaan yang mustahil untuk mencobanya secara terus menerus. Karena seperti kita ketahui bangsa ini lahir dan terbentuk juga karena sebuah kepedulian. Kepedulian para tokoh/generasi muda dan siapa saja yang merasa memiliki bangsa ini.
Kita bisa memulai hal tersebut dengan membuat pembatasan secara wajar dari lingkungan rumah atau tempat tinggal (lingkungan sekitar). Baik itu terhadap anak, adik, kakak, saudara-saudari ataupun tetangga yang ikut-ikutan tren, cenderung meniru atau mengekor. Singkatnya mereka tidak lagi  menjadi dirinya sendiri atau tampil apa adanya. Maka salah satu jalan untuk menumbuhkan kepedulian itu dapat dimulai dari rumah maupun pendidikan di sekolah agar bangsa ini terselamatkan. Seperti memperbanyak kegiatan yang bertujuan sebagai media berkereasi dan berekspresi bagi generasi muda, menumbuhkembangkan semangat untuk berkarya serta memberikan penghargaan terhadap karya yang dihasilkan oleh generasi muda secara jujur. []
Padang, 12 Maret 2012
*Tulisan telah dimuat di www.kuflet.com

Kamis, 05 Januari 2012

Pendidikan Ala Mbah Google


Internet sebagai bagian dari perkembangan media massa tidak dapat dipungkiri memberikan pengaruh yang luas dalam kehidupan manusia (siapa saja). Kehadiran internet dan segala fasilitas “maya” yang dimilikinya tidak lagi menjadi milik kalangan tertentu atau sekelompok orang saja. Saat ini segala kemudahan yang ada di dalamnya telah dapat diakses oleh siapa pun dan di mana pun mereka berada. Baik itu dewasa, remaja hingga anak-anak dapat membuktikan kecanggihan yang dimiliki oleh media massa satu ini. Selain batas ruang dan waktu yang secara signifikan menjadikan dunia semakin “kecil”, internet pun berhasil menghapuskan eksklusifitas yang ada dalam diri manusia. Betapa tidak dengan akses yang dimilikinya, internet mampu menghubungkan siapapun dengan latar belakang apapun mulai dari gender, usia, suku, agama, pendidikan, status sosial, pekerjaan dsb hanya untuk satu kepentingan, yaitu memperoleh informasi dan melakukan interaksi.



Internet dengan caranya sendiri mampu menyusup ke dalam sendi-sendi kehidupan manusia modern yang mau tak mau menggantungkan hidupnya pada kecanggihan dunia teknologi informasi setelah radio dan televisi. Mulai dari kehidupan sosial, ekonomi, budaya, politik, pendidikan maupun sendi kehidupan lain yang selama ini menjadi tolak ukur dalam melihat kemajuan suatu bangsa ikut terpengaruh dan menjadi bagian dari perkembangan tersebut. Namun seperti apa dan bagaimana pengaruh itu hadir dalam masing-masing sendi kehidupan tentunya sangat relatif. Apakah mereka berhasil memanfaatkannya dengan cerdik atau justru sebaliknya, menjadi “korban” dari dunia yang setiap detiknya menyediakan ruang informasi tanpa batas itu. Salah satunya dapat kita lihat pada dunia pendidikan.

Internet antara Tren dan Alternatif Positif 
Dunia pendidikan tanah air sejak beberapa tahun terakhir terus menerus mendapat sorotan dari berbagai pihak karena dianggap menunjukkan penurunan kualitas. Berdasarkan data Indeks Pembangunan Pendidikan untuk Semua atau Education For All (EFA) Global Monitoring Report 2011: The Hidden Crisis, Armed Conflict and Education yang dikeluarkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pada 1 Maret silam menunjukkan indeks pendidikan atau education development index (EDI) di Indonesia menempati rangking 69 dari 127 negara di dunia. Padahal tahun 2010 lalu Indonesia berada di rangking 65 (www.kompas.com). Penurunan rangking ini secara tidak langsung menunjukkan perhatian kita terhadap dunia pendidikan tanah air relatif masih rendah. Tak mengherankan jika kemudian salah satu alternatif yang coba digunakan untuk memajukan dunia pendidikan tanah air adalah dengan penggunaan teknologi dan informasi (internet) dalam proses belajar mengajar (PBM). Baik itu tingkat pendidikan dasar, menengah dan tinggi.

Penggunaan internet rupanya juga tidak ketinggalan meramaikan dunia pendidikan tanah air dalam satu dekade terakhir. Internet pun ikut menjadi bagian dari media yang membantu proses belajar mengajar para peserta didik. Media baru ini dianggap dapat membantu dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam belajar (proses PBM). Maka sudah hal yang lumrah dewasa ini para pengajar, baik guru maupun dosen menugaskan siswa/murid/pelajar/mahasiswanya untuk belajar melalui internet. Dalam arti guru atau dosen cukup memberikan tema/topik bahasan tentang mata pelajaran atau materi kuliah yang akan disampaikan kepada mereka. Baik itu berupa PR (Pekerjaan Rumah), makalah atau bahan presentasi yang menjadi menu wajib dalam metode pendidikan tanah air. Lalu tugas para peserta didiklah untuk mencari jawabnya melalui internet. Salah satunya dengan menggunakan mesin pencari (situs/website) google.


Keberadaan mesin pencari seperti google, yahoo maupun website lainnya di satu sisi memang memberikan manfaat yang besar dalam dunia pendidikan. Segala pengetahuan atau hal apapun yang ada di dunia akan ditemukan jawabannya lewat satu jari. Cukup meng-klik kata kunci yang kita maksud pada laman google, maka dalam hitungan detik semua informasi yang kita inginkan akan muncul secara serentak. Mulai dari informasi umum, kecil bahkan yang bersifat rahasia dapat kita temukan di sini. Tak mengherankan jika kemudian penggunaan mesin pencari ini dirasa lebih efektif dan efisien digunakan sebagai salah satu media pendidikan tanah air di zaman yang serba instan ini. Mesin pencari satu ini pun kerap dijuluki “mbah google” karena kemampuannya dalam mencari hal-hal yang dulunya kita anggap sulit untuk ditemukan jawabannya.

Meskipun demikian seperti dua sisi mata uang, dengan segala hal positif yang dimilikinya tidak menutup kemungkinan metode yang demikian juga menimbulkan  dampak negatif yang tidak kita sadari. Seperti yang kerap terjadi saat ini. Metode PBM melalui internet (mesin pencari google) ini akan lebih tepat digunakan bagi peserta didik dari kalangan mahasiswa atau tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Dalam arti peserta didik yang telah paham dengan manfaat penggunaan internet. Bagi peserta didik seperti siswa (SD) yang notabenenya belum terlalu mengerti atau paham akan media satu ini, tentunya penerapan hal demikian tidak tepat sasaran. Baik dari segi usia maupun pengetahuan peserta didik yang masih dangkal terhadap fungsi dan manfaat teknologi (internet) itu sendiri. Tak jarang para guru khususnya lebih memilih menugaskan siswa untuk mencari jawaban dari tugas (PR) yang diberikan melalui mesin pencari mbah google, padahal jawaban dari tugas-tugas tersebut masih dapat ditemukan di buku pelajaran yang mereka miliki.

Hal ini tentunya bukan dalam rangka menginginkan kemunduran dunia pendidikan tanah air. Hanya saja para guru atau pengajar juga perlu untuk memahami bahwa  penggunaan teknologi dan informasi tidak perlu dilakukan secara membabi buta. Kita pun perlu mempertimbangkan efek atau pentingnya penerapan hal demikian dalam dunia pendidikan bagi siswa. Bukankah dalam pendidikan dasar para peserta didik atau siswa perlu lebih diakrabkan dengan buku yang jamak kita ketahui merupakan jendela dunia. Dengan tujuan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu siswa terhadap apa yang ada di sekitar mereka. Memberikan rangsangan bagi siswa untuk menggali apa yang mereka lihat, dengar dan baca. Bukan sebaliknya, menjadikan siswa hanya terpaku pada satu objek atau benda yang memang menyediakan segala sesuatunya secara komplit. Mau tidak mau penggunaan media internet bagi siswa juga perlu mempertimbangkan usia, kemampuan maupun porsi dari si siswa sendiri. Kita tentunya tidak menginginkan jika kemudian para siswa lebih lama bermain game online daripada mencari PR yang ditugaskan oleh guru yang hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja.

Begitu pula halnya dengan yang terjadi di kalangan mahasiswa. Istilah copy-paste dalam pembuatan makalah atau tugas akhir seperti skripsi cukup sering kita dengar bahkan temukan. Ketidaktelitian dari dosen yang menugaskan (mengajar) pun menjadi persoalan yang cenderung memperparah keadaan ini. Kebanyakan dari para dosen pun kerap lengah dan malas untuk memeriksa kembali tugas dari mahasiswanya. Padahal jika diterapkan secara baik, tugas makalah atau skripsi tersebut di satu sisi dapat membantu mahasiswa dalam mengolah pemikirannya ke dalam bentuk kata-kata yang tersusun secara sistematis. Meskipun susunannya tersebut masih dalam bentuk sederhana (belum sempurna). Setidaknya mahasiswa dapat melatih dirinya untuk memiliki pendapat sendiri serta mampu untuk melakukan penelitian kecil-kecilan yang bermanfaat bagi mereka nantinya. Dan seharusnya menjadi tugas dosenlah untuk menanamkan disiplin, melatih kemampuan mereka dan menumbuhkan rasa percaya diri dengan apa yang mereka miliki (pengetahuan/pendapat) tersebut. Namun sejauh ini para dosen pun masih latah untuk tetap menghadapkan para mahasiswanya pada mbah google dalam tiap tugas yang diberikan.

Melihat hal di atas, maka belum terlambat rasanya jika pendidikan ala mbah google ini dievaluasi kembali. Apakah sudah tepat penerapannya, bermanfaatkah serta hasil yang ada selama ini seperti apa. Baik atau burukkah? Beberapa hal yang dapat kita lakukan kedepannnya antara lain, melakukan seleksi terhadap mata pelajaran atau mata kuliah tertentu yang memang membutuhkan penggunaaan internet, memberikan pembekalan atau pemahaman terhadap fungsi dan manfaat internet bagi siswa pendidikan dasar, menetapkan batasan usia (kelas) bagi siswa yang telah dapat diberikan tugas melalui internet, dan meningkatkan kepedulian para pengajar terhadap apa yang telah mereka tugaskan. Baik sebelum maupun sesudah memberikan tugas dapat dijadikan sebagai solusi untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh internet. Hal ini tentunya bukan berarti kita kembali menjadikan mereka awam dengan kemajuan dan perkembangan dunia teknologi dan informasi. Akan tetapi guna mengajarkan peserta didik dan kita semua untuk lebih arif dan bijaksana dalam menyikapi apa yang ada. Demikian. (Padang, 11 – 21 Oktober 2011)

*Penulis merupakan Alumnus Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Imam Bonjol Padang.

Minggu, 14 Agustus 2011

Minat Baca dan Diskon Murah Meriah

Kurangnya minat baca generasi muda bangsa ini sudah sejak lama menjadi rahasia umum. Bagaimana generasi muda lebih senang berlama-lama menonton tayangan TV, menikmati permainan “game online” ataupun mengikuti tren yang hadir di dunia maya (internet) secara tidak sadar sudah dimaklumi berbagai kalangan. Generasi muda kerap terlena dengan semua fasilitas canggih yang tampak dan hadir di hadapan mereka. Secara bersamaan generasi muda memang dihadapkan pada keharusan untuk mengikuti perkembangan zaman yang semakin lama semakin tak terbendung ini. Namun di sisi lain minimnya pengetahuan generasi muda bagaimana cara memilah hal yang baik dan buruk bagi diri mereka ditenggarai menjadi salah satu efek dari kurangnya minat akan dunia baca (buku atau dunia literasi).

Buku yang secara ideal kerap diibaratkan sebagai jendela dunia tidak mampu membendung perkembangan dunia informasi dan teknologi yang melenakan para generasi muda. Selain membaca buku pelajaran (wajib) yang ada di sekolah generasi muda yang berada pada usia sekolah dan produktif ini justru menjadikan buku sebagai sesuatu yang asing. Generasi muda tidak lagi menganggap buku sebagai kebutuhan primer dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sebagaimana yang diperlihatkan oleh generasi muda di masa lampau (pra kemerdekaan). Buku yang merupakan gudang ilmu itu kemudian tidak lebih menjadi kebutuhan kesekian dalam kehidupan para generasi muda saat ini. Jika ingin mengetahui penyebab hal tersebut tentunya banyak faktor atau alasan yang dapat kita kemukakan. Pengaruh perkembangan dunia informasi dan teknologi yang pesat pastinya berada di urutan pertama. Tidak tumbuh dan berkembangnya budaya baca dan tulis di lingkungan formal (sekolah) dan non-formal (keluarga ataupun pergaulan), seragamnya jenis buku yang ataupun buku yang ada belum mampu menarik minat para generasi muda hingga harga buku yang tidak terjangkau (mahal) barangkali dapat dijadikan sebagai alasan.

Kecemasan-kecemasan akan persoalan yang dihadapi bangsa ini pun telah banyak mendapat sorotan dalam berbagai bentuk (tulisan maupun kegiatan-kegiatan). Baik oleh para pakar pendidikan, sosial budaya hingga para aktivis (LSM) yang notabenenya juga berperan dalam memperbaiki keadaan bangsa ini. Hal ini tampak dari banyaknya ulasan, diskusi, seminar ataupun tindakan nyata yang dipelopori oleh individu maupun kelompok dalam mencari solusi (efektif atau tepat sasaran) dalam rangka menumbuhkembangkan (kembali) minat baca di tengah generasi muda. Perlahan namun pasti jika usaha-usaha tersebut dilakukan secara konsisten dan terus menerus bukan hal yang mustahil nantinya para generasi muda akan kembali menghargai buku dan menjadikannya sebagai sesuatu yang penting. Meskipun dalam statistik angka generasi muda yang “asing” terhadap buku lebih dominan, namun kita pun tidak dapat meniadakan keberadaan para pemuda (generasi muda) lainnya yang justru menjadikan buku sebagai santapan sehari-hari (kutu buku).

Buktinya penyelenggaraan bazaar buku yang diadakan oleh kalangan-kalangan tertentu masih diminati oleh para generasi muda. Hal ini tampak dari ramainya anak-anak maupun remaja usia sekolah yang datang mengunjungi bazaar buku yang kerap diadakan tiap tahun tersebut. Toko buku (rental buku) pun makin menjamur bertebaran di kawasan kampus (pendidikan). Bahkan diskon besar-besaran yang diadakan oleh salah satu toko buku besar di Sumatera Barat selama satu bulan yang lalu mendapat respon yang cukup menggembirakan dari kalangan masyarakat. Terutama generasi muda yang berada pada usia sekolah.

Para generasi muda dengan berbagai latar pendidikan ini datang berbondong-bondong. Ada yang datang bersama kedua orang tua, teman-teman, ataupun seorang diri. Hal ini tentunya tidak dapat diremehkan begitu saja. Secara tidak langsung menjadi bukti bahwa se-maju atau sepesat apapun perkembangan dunia teknologi dan informasi, buku dan segala hal dikandungnya masih dan akan selalu mendapatkan tempat di tengah masyarakat. Barangkali kita tidak dapat hanya menyalahkan mereka (generasi muda) kenapa tidak dapat menyukai buku dan bacaan bermutu lainnya. Harga buku yang terlalu mahal dan tidak dapat dijangkau oleh kantong generasi muda yang notabenenya masih meminta jatah (jajan) kepada kedua orang tua mungkin menjadi penyebab yang perlu kita sikapi. Bukankah diskon buku murah meriah telah terbukti dapat menarik minat para generasi muda untuk berkunjung ke toko buku dan kalau beruntung juga dapat membeli buku-buku tersebut. *** (Padang, 8 Feb 2011)

Selasa, 09 Agustus 2011

Dunia Besar Dunia Kecil


Saya tidak tahu apakah istilah Dunia Besar Dunia kecil di atas pernah digunakan sebelumnya. Namun bagi saya pribadi, istilah ini memang datang begitu saja (tidak nyontek), yaitu saat saya dalam proses pengerjaan skripsi dua tahun silam. Terutama istilah dunia kecil yang memang secara spontan muncul saat itu. Saya ingat istilah ini saya gunakan dalam Kata Pengantar sebagai ucapan terima kasih untuk orang-orang yang telah membantu saya selama proses pengerjaan skripsi tahun 2009 lampau. Yap, saya termasuk orang yang mempertahankan tradisi untuk mengutarakan segala sesuatu secara gamblang, termasuk dalam penulisan skripsi sekalipun. Bukan untuk narsisme atau apapun namanya, hanya saja segala sesuatu itu memang akan terasa lebih lapang ketika telah tersampaikan. Meskipun itu hanya dalam sebuah buku yang bernama skripsi. Sedangkan untuk istilah dunia besar baru saya temukan beberapa jam yang lalu, heheheheh....

Dunia besar merupakan tempat di mana kita berasal, tempat kita tinggal dan berproses secara alami dengan alam yang serba luas dan maha kaya ini. Kita (diri sendiri) menjadi bagian dari bumi yang merupakan rumah bagi makhluk hidup, termasuk juga kita sebagai manusia. Di dunia besar inilah kita memperlihatkan eksistensi sebagai makhluk yang tidak sia-sia penciptaan-Nya. Ia menjadi khlaifah di muka bumi. Membaca pedoman (alam, dll) serta menjalankan petunjuk yang ada. Segala yang ada di alam merupakan perwujudan kasih Tuhan. Sejauh mana kita bisa mengisi kehidupan di dunia besar ini tergantung bagaimana kita memandang diri kita sendiri. Apakah kita mampu mensyukuri segala nikmat. Bangkit ketika dihadapkan pada hal yang tidak menyenangkan. Dan tetap melangkah untuk mewujudkan segala keinginan yang kita alami. Dunia besar senantiasa menunggu kita untuk itu.

Sementara itu dunia kecil menjadi pengibaratan diri kita yang rapuh. Ia merupakan perwujudan dari hal terdekat yang kita miliki. Keluarga, teman, kekasih, sahabat atau siapapun dan apapun yang selama ini membantu kita menjadi manusia yang lebih baik. Lebih baik di sini bukan hanya dalam bentuk memperoleh nikmat yang membahagiakan tetapi juga menjadikan kita seseorang yang menyadari kuasa alam, kuasa Tuhan yang menimpa diri kita. Seperti membangkitkan rasa peduli, bahagia, sedih, kecewa, dll yang menjadikan kita lebih baik. Meskipun kadangkala caranya tidak selalu baik. Seperti dipecat dari pekerjaan, putus cinta, patah semangat saat melakukan sesuatu. Nah, di dunia kecil inilah kita bergantung.

Dunia besar dan kecil ini tanpa kita sadari memiliki keterkaitan yang erat. Dunia kecil dapat membawa kita ke dunia besar dengan langkah tegap dan pandangan optimis atau justru sebaliknya. Membuat kita takut, khawatir atau perasaan negatif lainnya yang merusak diri kita sendiri. Kemudian juga sebaliknya dari dunia besar inilah kita belajar untuk tegar, berani, pintar dalam bertindak dalam mengatasi berbagai persoalan yang berasal dari dunia kecil yang kadang mampu melumpuhkan hal-hal baik yang kita miliki. Maka sebaiknya keberadaan kita di dunia besar dan dunia kecil tersebut perlu kita sikapi secara bijak. Menjadikannya tempat berpijak yang seimbang. Tahu kapan saat masuk ataupun keluar dari semua persoalan yang barangkali kerap membuat kita "tersesat" .

Jumat, 29 Oktober 2010

Seketika Itu Jua




Kita tidak pernah tahu kapan ide akan datang dan berdiam di rumah yang kita miliki. Hal yang harus kita lakukan adalah menyambutnya dengan penuh suka cita. Mungkin dengan sekerat roti dan secangkir teh akan menyenangkan hatinya.

Yap, aku sangat menyukai fase atau proses ketika ide-ide itu memburuku. Terlebih ketika aku telah lama tidak berjumpa dengannya. Aku pun tidak peduli jika ide itu masih berupa sekerat kata yang belum berbentuk. Namun seperti yang selalu aku nikmati, aku cukup menambahkan beberapa kata atau kalimat lainnya. Aku pun selalu bersyukur untuk sesuatu yang terlintas, sekelebat, sesaat, seketika itu jua. Tak peduli apapun bentuknya, seperti rupa di bawah ini....


*Tidak sempat memunguti ide-ide
Hari ini hanya ada remah-remah kata
Entah dapat mengenyangkan atau tidak

*Sejarah hanyalah ilusi angka-angka yang berdiam
di tempat-tempat yang tak pernah kita singgahi

*telah menyepakati
akan berladang
di tanah masing-masing

*bila waktu adalah perundingan
semoga kesepakatan itu ada

*tuan dan puan
di tanah kita masing-masing
hidup lamat-lamat kan bergulir
tak usah risau

*kelak kenang dan usia
hanyalah sekelebat tempat singgah
di waktu lalu


Semoga bermanfaat... ^_*