Minggu, 14 Desember 2008

“Remote Control” untuk sebuah Pergerakan Mahasiswa

Dewasa ini sudah menjadi rahasia umum bahwa pergerakan mahasiswa pasca reformasi ini tidak segencar dan “sesukses” era-era sebelumnya (60-an dan reformasi). Pergerakan mahasiswa saat ini cendrung stagnan tanpa ada suatu terobosan atau inovasi baru. Hal itu ditandai dengan semakin berkurangnya tingkat sensitifitas mahasiswa dalam membaca dan mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi rakyat, mahasiswa tidak lagi dapat menyikapi serta mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah yang pada dasarnya cendrung merugikan rakyat, mahasiswa tidak lagi memegang idealismenya secara murni sehingga menyebabkan pergerakan mahasiswa saat ini sudah “terkontaminasi” oleh pihak-pihak tertentu.

Bahkan indikasi ini semakin terlihat jelas saat para mahasiswa dengan aksi demontrasinya yang kian hari kian “sarkas dan merugikan” hanya dipandang sebelah mata oleh mereka yang didemo. Demonstrasi dahulunya memang merupakan salah satu bentuk atau cara yang ditempuh oleh mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi (pikirannya) terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang pada saat itu dianggap tidak sesuai atau sejalan dengan idealisme yang mereka yakini. Namun beda halnya dengan yang terjadi sekarang, demonstrasi mahasiswa bukan lagi sesuatu yang menakutkan dan pantas dihadapi dengan serius namun malah jadi opera sabun yang menggelikan bagi penontonnya.

Adanya indikasi dan kenyataan-kenyataan di atas menimbulkan suatu pertanyaan di benak kita, mengapa pergerakan mahasiswa setelah 10 tahun reformasi ini tak ubahnya hanya menjadi “pergerakan robot?” Layaknya robot yang untuk melakukan sesuatu hanya perlu sebuah remote control untuk memerintah dan mengendalikannya. Ia sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa untuk dirinya. Maka tanpa panjang lebar ia pun akan siap sedia untuk melakukan apapun yang diperintahkan oleh “bosnya”, tanpa perlu berpikir atau mengetahui apa maksud atau tujuan dari yang ia kerjakan tersebut. Hal inilah yang kemudian mengkhawatirkan dan menimbulkan kerisauan dalam diri kita.

Banyak contoh yang mengantarkan kita pada praduga di atas. Dimulai dengan adanya pertikaian di tubuh perguruan tinggi agama di Sumatera Utara awal tahun 2008 lalu yang berakhir dengan kericuhan dan kekerasan. Kasus ini pun bermula dari adanya perselisihan masalah kepemilikan tanah kampus tersebut. Kemudian adanya aksi demo yang terkait dengan hasil Pilkada di berbagai wilayah yang akhirnya cendrung memprovokatori masyarakat bukan malah meyelesaikan masalah yang dapat diselesaikan melalui jalur hukum. Demonstrasi menolak kenaikan BBM pada bulan Mei lalu yang (sepertinya) diantisipasi dengan BKM serta yang paling hangat yaitu demonstrasi mahasiswa di sejumlah wilayah untuk membubarkan FPI yang dianggap merugikan.

Semua persoalan ini pada akhirnya juga tidak memperoleh titik terang dan malahan menghilang begitu saja dari peredaran. Pergerakan yang dilakukan mahasiswa berupa berbagai demonstrasi justru tidak membuahkan hasil sama sekali. Belum lagi jika ditambah dengan keberadaan organisasi-organisasi kemahasiswaan yang ironisnya malah memunculkan pertikaian dan perpecahan (internal dan eksternal) seperti yang banyak terjadi saat ini.

Organisasi tidak lagi menjadi tempat yang seharusnya melahirkan dan membentuk watak para intelektual (pemikir) muda, organisatoris “berkelas” maupun pemimpin-pemimpin masa depan yang seyogyanya berjiwa lapang, berwawasan luas serta tidak berpikiran sempit (dangkal) seperti layaknya tauladan yang telah ditinggalkan oleh generasi sebelumnya. Mereka dapat menunjukan jati diri pemuda Indonesia dengan gemilang serta pencitraan yang jujur tentunya.

Jika saja para mahasiswa atau pemuda bangsa saat ini mau berbesar hati untuk melakukan introspeksi diri guna menelaah hal-hal apa saja yang selama ini telah mereka lakukan dan seberapa banyak hasil yang diperoleh dari “pergerakan-pergerakan” tersebut alangkah lebih baik dan mulianya. Para mahasiswa hendaknya tidak lagi menjadi robot-robot tanpa perasaan yang tak mampu berpikir dan selalu bertindak membabi buta untuk “mengerjakan tugas-tugasnya” dalam hal merespon apa yang terjadi di lingkungan sekitar (rakyat). Karena hakikat dari sebuah pergerakan adalah melakukan sebuah perpindahan, pembaharuan dan perbaikan. Sedangkan hakikat dari menjadi mahasiswa adalah menjadi orang yang menggunakan akalnya semaksimal mungkin dalam melihat dan menghadapi berbagai persoalan yang ada.

Oleh sebab itu pergerakan mahasiswa sudah saatnya memiliki “magnit” yang kuat untuk menarik apapun yang ada di sekitarnya. Seperti bidang lainnya pergerakan mahasiswa juga membutuhkan alternatif lain berupa inovasi-inovasi yang lebih baru dan ampuh. Dapat menampilkan bentuk-bentuk serta visi misi pergerakan yang berbeda dan baru. Suatu pergerakan yang lebih berkualitas, berbobot, konsekuen serta lebih memiliki nilai (kebaikan). Sehingga dapat memberikan peran yang lebih besar dalam melakukan perbaikan di tengah masyarakat (rakyat). Dapat menjadi “magnit” yang kuat dalam menarik apapun yang ada di sekitarnya. Dengan demikian remote control secanggih apapun tidak akan bisa mengendalikannya dalam berbuat.

(Singgalang, Juni 2008)


Tidak ada komentar: